Halaman

Minggu, 27 Mei 2012

laporan praktikum penentuan kadar nikel pada uang logam 1000


LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR KIMIA ANALITIK I
PERCOBAAN III
PENENTUAN KADAR NIKEL PADA UANG LOGAM 1000

Add caption



DESKRIANA RAHMELIA
A 251 10 032



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2011











I.  JUDUL PERCOBAAN

PENENTUAN KADAR NIKEL PADA UANG LOGAM 1000
DENGAN METODE KOMPLEKSOMETRI

II.  TUJUAN
     Adapun tujuan dilakukannya percobaan ini yaitu untuk menentukkan kadar nikel pada uang logam 1000 melalui metode kompleksometri.

III. TINJAUAN PUSTAKA
                        Titrasi kompleksometri merupakan titrasi terhadap larutan analit dengan titran yang mampu membentuk ion atau senyawa kompleks. Pada prinsipnya titrasi kompleksometri merupakan reaksi pembentukan kompleks yaitu reaksi antara ion logam dan ligan membentuk ion kompleks yang stabil (Pursitasari,2011).
Titrasi kompleksometri merupakan titrasi yang berdasarkan atas pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion), misalnya
Ag+ + 2CN-                Ag(CN)2-
Disamping titrasi kompleks biasa seperti di atas, dikenal pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Rumus struktur dari EDTA adalah sebagai berikut:
HOOC - CH2 CH3COOH
  N – CH2 – CH2 – N
                     HOOC - CH2 CH2COOH
Terlihat dari strukturnya bahwa molekul tersebut mengandung baik donor elektron dari atom oksigen maupun donor dari atom nitrogen sehingga dapat menghasilkan khelat bercincin sampai dengan enam secara serempak (Shevla, 1990).
Sebagian besar logam dalam larutan dapat ditentukan secara titrasi dengan larutan baku pereaksi pengompleks seperti misalnya etilen diamin tetra asetat atau EDTA. Reaksi dengan nikel secara stoikiometri adalah 1:1 dan berlangsung secara kuantitatif pada pH 7. Pereaksi EDTA umum dipakai dalam bentuk garamnya yang mudah larut dalam air. Indikator yang digunakan adalah EBT atau murexide mampu menghasilkan kompleks berwarna dengan ion logam tetapi berubah warna apabila logam-logam terkomplekskan sempurna oleh EDTA pada titik akhir titrasi, karena indikator-indikator ini juga peka terhadap perubahan pH, larutan yang akan dititrasi harus dibuffer (Harjadi, 1993).



IV. RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana cara menetukan kadar nikel pada uang logam 1000?
2.      Berapa kadar nikel pada uang logam 1000?





V. HIPOTESIS (KESIMPULAN SEMENTARA)

1.      Titrasi kompleksometri merupakan titrasi yang berdasarkan atas pembentukan persenyawaan kompleks (ion kompleks atau garam yang sukar mengion).
2.      Reaksi dengan nikel secara stoikiometri adalah 1:1 dan berlangsung secara kuantitatif pada pH 7.
3.      Pereaksi EDTA umum dipakai dalam bentuk garamnya yang mudah larut dalam air.
4.      Indikator yang digunakan adalah EBT yang  mampu menghasilkan senyawa kompleks.
















VI. ALAT DAN BAHAN

            Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu :

1.      Alat :
·         Buret
·         Klem dan Statif
·         Pipet tetes
·         Pipet volume
·         Penangas listrik
·         Batang pengaduk
·         Kertas saring
·         Neraca digital
·         Labu ukur
·         Gelas kimia
·         Erlenmeyer
·         Corong
2.      Bahan :
·         Larutan EDTA 0,01 M
·         Larutan NH4OH
·         Larutan HCl pekat
·         Larutan HNO3 pekat
·         Larutan NH4Cl 1 M
·         Indikator EBT
·         Aquades



Horizontal Scroll: Melarutkan sampel nikel dengan menggunakan larutan HCl pekat (dipanaskan)VII. CARA KERJA/PROSEDUR KERJA









Horizontal Scroll: Menimbang uang logam 1000 yang telah dihancurkan (sampel nikel)









Horizontal Scroll: Menitrasi larutan sampel dengan larutan EDTA 0,01 M.




























                                      

VIII.  HASIL EKSPERIMEN

                  Adapun hasil pengamatan yang diperoleh dari percobaan ini yaitu :

No
Cara Kerja
Hasil

1.

2




3.

4.



5.





6.


Menimbang sampel logam Ni

- Melarutkan sampel Nikel dengan larutan HCl pekat (dipanaskan)
-+HNO3 pekat + aquades.


Menyaring larutan sampel

Mengencerkan 10 ml larutan sampel hingga 100 ml.


Memasukkan 10 ml larutan sampel + 5 ml larutan NH4Cl + 10 ml aquades + 0,05 gram indikator EBT + larutan NH4OH pekat.


Menitrasi larutan sampel dengan larutan EDTA 0,01 M

·         Erlenmeyer 1


·         Erlenmeyer II

4,43 gram

-Warna larutan bening kekuningan (tidak larut).
-Warna larutan coklat tua (larut sebagian)

Filtrat berwarna coklat muda.

Warna larutan tetap coklat muda.



Larutan berwarna hijau tua.








·         Warna larutan coklat muda dan volume EDTA yang terpakai 14,6 ml.
·         Warna larutan coklat muda dan volume EDTA yang terpakai 14,2 ml.

                                      


·         Persamaan Reaksi


Ni2+ + Y4-                    NiY2-

·      Perhitungan

     Dik :        M EDTA = 0,01 M
V erlenmeyer I = 14,6 ml
V erlenmeyer II = 14,2 ml
Massa sampel = 4,43 gram.

Dit :         kadar Ni....????

Penyelesaian ;

Titrasi I :


              VEDTA.MEDTA     =  VSAMPEL.MSAMPEL
              14,6 ml.0,01 M  =   10 ml. M2

                                     M2= 

                                     M2=  0,01 M



Titrasi II :

             VEDTA.MEDTA     =  VSAMPEL.MSAMPEL
              14,2 ml.0,01 M  =  10 ml. M2

                                   M2= 

                                   M2=  0,01 M



Konsentrasi EDTA rata-rata =

                                                 = 0,01 M


                                               
Volum EDTA rata-rata =

                                      = 14,4 ml
 

Mol Ni awal  =         V   x   M
                      =  14,4 ml x 0,01 M
                      =  0,144 mmol
                      =  0,000144 mol

Mol Ni setelah diencerkan =  mol Ni awal x FP

                                          =  0,000144 mol x

                                          =  0,00144 mol

Massa Ni = mol Ni x Ar Ni

                = 0,00144 mol x 58,69 gr/mol

                = 0,08451 gram

%(b/v) Ni =
               
                 = 0,08451%









IX. PEMBAHASAN

                        Titrasi kompleksometri merupakan titrasi terhadap larutan analit dengan titran yang mampu membentuk ion atau senyawa kompleks. Pada prinsipnya titrasi kompleksometri merupakan reaksi pembentukan kompleks yaitu reaksi antara ion logam dan ligan membentuk ion kompleks yang stabil (Pursitasari,2011).
Metode kompleksometri ini didasarkan pada kemampuan ion–ion logam terdapat dalam sampel ditambahkan suatu indikator EBT, maka akan terbentuk kompleks Ni-EBT yang berwarna merah anggur. Kompleks ini kurang stabil bila dibandingkan dengan kompleks Ni-EDTA sehingga dengan demikian jika ke dalam larutan yang mengandung Ni-EBT ditambahkan larutan EDTA, maka ion nikel akan segera terikat pada EDTA, sehingga ion indikator akan lepas dan kembali berwarna biru pada pH 7-11
                        Percobaan ini dilakukan untuk menentukan kadar nikel pada uang logam 1000 dengan metode kompleksometri.

                        Pada percobaan ini hal pertama yang dilakukan adalah menimbang sampel (uang logam 1000 yang sudah dihancurkan) dengan menggunakan neraca digital  dan diperoleh massa dari sampel tersebut adalah 4,43 gram. Kemudian sampel tersebut dimasukkan kedalam gelas kimia untuk dilarutkan dengan larutan HCl pekat (dipanaskan) maka yang diperoleh sampel tidak larut sekalipun dilakukan pemanasan. Menurut teori sampel (logam Nikel) dapat larut jika dilarutkan dengan HCl pekat, namun dalam percobaan ini sampel tidak larut, hal ini dikarenakkan sampel yang digunakan tidak sebanding dengan pelarut yang digunakan. Atau bisa dikatakan sampel terlalu banyak namun pelarut yang digunakan hanya sedikit. Karena tidak larut dengan HCl pekat maka sampel + HCl pekat tersebut ditambahkan dengan HNO3 pekat + aquades, sehingga diperoleh hasil sebagian sampel melarut.

                        Selanjutnya dilakukan penyaringan terhadap sampel tersebut untuk memisahkan antara residu dan filtrat. Residu dan filtrat dipisahkan karena yang akan digunakan pada percobaan ini hanyalah filtrat,hasil penyaringan diperoleh filtrat berwarna coklat muda. Setelah proses penyaringan selesai maka 10 ml filtrat tersebut (larutan sampel) diencerkan hingga 100 ml, dan warna larutan tetap coklat muda.

                        Selanjutnya memasukkan 10 ml larutan sampel tersebut ditambahkan dengan 5 ml larutan NH4Cl + 10 ml aquades + 0,05 gram indikator EBT + larutan NH4OH pekat kedalam erlenmeyer untuk dititrasi dengan larutan EDTA 0,01 M. Dan warna yanf dihasilkan larutan ini adalah hijau tua.
           
                        Langkah terakhir yang dilakukan yaitu menitrasi larutan sampel tersebut dengan 2 kali titrasi dalam erlenmeyer yan bebrbeda dengan perlakuan yang sama. Warna larutan yang dihasilkan dari titrasi ini adalah coklat muda, dengan volume yang diperoleh dari titrasi 1 dan II secara berturut-turut adalah 14,6 ml dan 14,2 ml.

                        Dari hasil perhitungan sesuai hasil pengamatan diperoleh presentasi kadar nikel dalam uang logam 1000 yaitu 0,084%. Hasil ini berbeda dengan teori yang ada. Dalam teori kadar nikel yang ada pada uang logam 1000 adalah sekitar 4,4%. Perbedaan ini mungkin dikarenakan logam nikel yang digunakan terlalu banyak, dan juga sampel nikel yang digunakan tidak larut sempurna keika dilarutkan serta proses titrasi yang dilakukan kurang baik dalam hal ini melihat titik akhir titrasi yang ditandai dengan perubahan warna pada larutan. Sehingga hasil pengamatan jauh berbeda dengan teori yang ada.





X. Kesimpulan

            Adapun kesimpulan yang diperoleh pada percobaan ini yaitu :
1.      Titrasi kompleksometri adalah titrasi terhadap larutan analit dengan titran yang mampu membentuk ion atau senyawa kompleks.
2.      Volume EDTA yang digunakan untuk menitrasi larutan sampel ialah :
Erlenmeyer 1 = 14,6 ml
Erlenmeyer 2 = 14,2 ml.
3.      Kadar Nikel yang terdapat pada uang logam 1000 sesuai percobaan ini ialah 0,084%.








 XI. EVALUASI

·         Rumusan masalah (oke)
·         Hipotesis/kesimpulan sementara (oke)
·         Prosedur eksperimen (oke)
·         Alat dan bahan (oke)
·         Hasil eksperimen (perhitungan dan reaksi) (oke)
·         Pembahsan (oke)
·         Kesimpulan (oke).


DAFTAR PUSTAKA


Day, R. A. Ir dan A. L. Underwood. 1999. Analisis Kimia Kuantitatif. Erlangga. Jakarta.

Harjadi, W. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Erlangga. Jakarta.
Khopkar S. M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press. Jakarta
Pursitasari. 2011. Buku Ajar Kimia Analisis Kuantitatif. Untad Press. Palu.
Svehla, G, 1990, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro,  Edisi ke-5. PT Kalman Media Pustaka. Jakarta.

Tidak ada komentar: