Gas mulia
Di abad ke-18, H. Cavendish menemukan
komponen yang inert di udara. Di tahun 1868, suatu garis di spektrum sinar
matahari yang tidak dapat diidentifikasi ditemukan dan disarankan garis
tersebut disebabkan oleh unsur baru, helium. Berdasarkan fakta ini, di akhir
abad ke-19 W. Ramsay mengisolasi He, Ne, Ar, Kr, dan Xe dan dengan
mempelajari sifat-sifatnya ia dapat menunjukkan bahwa gas-gas tersebut adalah
unsur baru. Walaupun argon berkelimpahan hampir 1% di udara, unsur ini belum
diisolasi hingga Ramsay mengisolasinya dan gas mulia sama sekali tidak ada
dalam tabel periodiknya Mendeleev. Hadiah Nobel dianugerahkan pada Ramsay tahun
1904 atas keberhasilannya ini.
Gas mulia ditemukan di dekat golongan
halogen dalam tabel periodik. Karena unsur gas mulia memiliki konfigurasi
elektron yang penuh, unsur-unsur tersebut tidak reaktif dan senyawanya tidak
dikenal. Akibatnya gas-gas ini dikenal dengan gas inert. Namun, setelah
penemuan senyawa gas-gas ini, lebih tepat untuk menyebutnya dengan unsur gas
mulia, seperti yang digunakan di sini.
Walaupun kelimpahan helium di alam
dekat dengan kelimpahan hidrogen, helium sangat jarang dijumpai di bumi karena
lebih ringan dari udara. Helium berasal dari reaksi inti di matahari dan
telindung di bawah kerak bumi. Helium diekstraksi sebagai hasil samping gas
alam dari daerah-daerah khusus (khususnya Amerika Utara). Karena titik leleh
helium adalah yang terendah dari semua zat (4.2 K), helium sangat penting
dalam sains suhu rendah dan superkonduktor. Lebih lanjut, karena ringan helium
digunakan dalam balon udara, dsb. Karena argon didapatkan dalam jumlah besar
ketika nitrogen dan oksigen dipisahkan dari udara, argon digunakan meluas dalam
metalurgi, dan industri serta laboratorium yang memerlukan lingkungan bebas
oksigen.
Senyawa gas mulia
Xenon, Xe, bereaksi dengan unsur yang
paling elektronegatif, misalnya fluorin, oksigen, dan khlorin dan dengan
senyawa yang mengandung unsur-unsur ini, misalnya platinum fluorida, PtF6.
Walaupun senyawa xenon pertama dilaporkan tahun 1962 sebagai XePtF6,
penemunya N. Bartlett, kemudian mengoreksinya sebagai campuran senyawa Xe[PtF6]x
(x= 1-2). Bila campuran senyawa ini dicampurkan dengan gas fluorin dan diberi
panas atau cahaya, flourida XeF2, XeF4, dan XeF6
akan dihasilkan. XeF2 berstruktur bengkok, XeF4 bujur
sangkar, dan XeF6 oktahedral terdistorsi. Walaupun preparasi senyawa
ini cukup sederhana, namun sukar untuk mengisolasi senyawa murninya, khususnya
XeF4.
Hidrolisis fluorida-fluorida ini akan
membentuk oksida. XeO3 adalah senyawa yang sangat eksplosif.
Walaupun XeO3 stabil dalam larutan, larutannya adalah oksidator
sangat kuat.
Tetroksida XeO4, adalah senyawa xenon yang paling
mudah menguap. M[XeF8] (M adalah Rb dan Cs) sangat stabil
tidak terdekomposisi bahkan dipanaskan hingga 400° C sekalipun. Jadi, xenon
membentuk senyawa dengan valensi dua sampai delapan. Fluorida-fluorida
ini digunakan juga sebagai bahan fluorinasi.
Walaupun kripton dan radon diketahui
juga membentuk senyawa, senyawa kripton dan radon jarang dipelajari karena
ketidakstabilannya dan sifat radioaktifnya yang membuat penanganannya sukar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar